BANDUNG | KATANYA.ID - Acep Iwan Saidi adalah penyair kelahiran Kota Bogor, Jawa Barat. Selain penyair yang sudah menerbitkan sejumlah buku dan menulis ratusan sajak, ia merupakan seorang pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) dan beberapa perguruan tinggi di Tanah Air.

Pada Juni 2025 lalu, Kang Ais -demikian sapaan akrabnya,dikukuhkan sebagai Guru Besar di bidang Semiotika Seni dan Desain dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Bagi Ais, menulis sajak merupakan sebuah bentuk rekreasi untuk melepaskan ikatan dari belenggu kehidupan. Meski ia sendiri tidak meyakini jika hidup disebut belenggu yang terkadang
Berikut adalah buah karyanya yang "diperkenankan" untuk ditayangkan:
--------------------
Adakah yang tidak pernah bosan selain ombak? Selalu dikirimnya kabar ke pantai, dari jauh, dari palung-palung terdalam sejarah. Ditulisnya berita pada hamparan pasir, pada tebing-tebing karang, pada batang-batang bakau. Dengarlah, deburnya adalah perjalanan abadi. Telah dihapusnya waktu hingga ombak itulah waktu.
Bukankah ia juga yang membangunkanmu dari lupa kepada kala, saat kamu lengah pagi-pagi. Saat aliran rob menguburmu di utara Jakarta. Hingga di ujung barat terdengar teriakan menyayat: “Hoiii, telah menyerang gelombang tsunami!”. Pergilah jauh ke tempat-tempat tak terperi.
Begitulah pula dahulu kala. ketika sebuah bahtera membumbung ke atas gunung. Bukankah kamu juga ingat, tentang semesta yang menjadi ombak, dan laki-laki suci yang berjaga di bukit Al-Judi.
“Akulah Hang Tuah,” gelombang yang menjadi pasang ketika segala datang menghadang. Telah begitu banyak pembajak yang memisahkan laut dari pantai. Pulau-pulau lepas menjauh. “Ke Jawa, ke Jawa kita bersegera!” teriak para nelayan Pasai yang terlempar di Tidore. Hongi telah memaksa mereka menjadi petani. Dan rodi. Ah, sekiranya kamu ombak, pasti kamu akan berkisah lebih banyak.
Namun sayang seribu sayang, legenda telah mengutukmu menjadi batu. Ombaklah pula yang justeru telah mengukir kisah itu di tubuhmu: Malin yang tidak bisa kembali. Mungkin nyata benar katamu, sekali layar dikembang, tidak perlulah ingat pulang. “Ke Jawa, ke Jawa kita bersegara!”. Begitulah. Kamu pun menikah, beranak, dan berbahagia . Kamu telah meninggalkan tasik yang tenang, menjadi Tuti yang tidak pernah kembali ke nagari; sedang Sutan tidak suka meninggalkan belantara kembara. Barangkali kamu hanya suka mengikuti takdir, mengalir ke hilir, menuruni liku dan lekuk batang sungai. Namun sayang seribu sayang, ke laut kamu hanya menyeberang.
O, La Galigo , di palung manakah pinisi terkubur? Barangkali kamu menemukannya dalam disertasi. Tradisi, memang selalu seksi untuk diteliti. Aku bersaksi atas Pius Caro yang melacak jejak dalam 69 malam, bukankah ia memulainya dari asap kemenyan yang ditiupkan hingga ke pusat laut, tepat ketika seorang pemuda tersungkur di geladak. Ia memang tidak berlayar ke Madagaskar, tidak menepi di Ausi. Ia juga tidak menengok Tiongkok . Ia biarkan sang putri sepi sendiri dalam lukisan pelangi. Tapi, lihatlah, biduknya berlabuh dalam lubuk-lubuk terpencil sejarah, tapak yang memanjang dalam ingatan. “Nenek moyangku/orang pelaut”, desismu dengan dada membusung pada tiap upacara di sela-sela nyanyian Indonesia Raya. Aku mendengar debur dari jauh. Tiap subuh. Ketika tidak ada suara selain sunyi yang menjerit hingga ke langit: pinisi yang digantung di jembatan Suramadu. “Kami bangga, Madura telah bisa mengimpor garam”, kata seorang pejabat. Konon ia sempat mengaku cicit ke 1000 Sawerigading, yang lahir tepat ketika malam turun di laut Jawa.
Dan Pulau Jawa adalah sebutan lain untuk formasi segi tiga, barisan bukit yang bergandengan di selatan. Masa lalunya adalah rimba , hutan yang tumbuh di atas kuburan seorang dewa yang terbunuh di sebuah rawa. Para raja memang dilahirkan di situ. Tapi, semua terkubur di dalam babad, juga seorang patih yang pada akhirnya ringkih. Lantas tiba para pemburu dari utara, yang terlalu perkasa untuk digada. Mereka menghunus senjata anti konta: sebentuk bulatan besi api yang meluncur dengan kecepatan hantu. “Meriam setan telah membuat cetbang meregang!”, teriak seorang telik sandi dengan lidah yang terbetot oleh ketakutannya sendiri. Pernah seorang pangeran berturban mengejarnya hingga ke seberang, tapi pada akhirnya ia pun terdesak ke dalam semak di bibir pantai, di Demak. Konon sang pangeran tak murni dikalahkan secara jantan. Tapi, itulah hukum dalam perburuan .
Sebuah hutan memang surga bagi para pemburu. Dan masa lalu Jawa adalah rimba, tempat Raden Saleh memamerkan lukisannya di galeri harimau, sebelum seorang noni memajang di kamarnya yang asri di Braga. Hindia moi. Ahai, betisnya terlalu mulus untuk diciprati lidah ombak. Para perjaka tumbuh subur dengan wajah pegunungan yang teduh. Cangkul ditanam dalam-dalam, jagung pun tumbuh susul-menyusul. Maka mangan ora mangan adalah ngumpul. “Jangan berjalan terlalu ke selatan jika tidak hendak dibujuk ratu setan. Kau akan tenggelam dalam kesengsaraan,” demikian saran pelancong dari tanah benua, yang datang bersama para perambah, para ahli jalan raya, dan, tentu pula, pakar pembuat kereta. Dari Anyer hingga Panarukan laut karam ombak tenggelam. Engineers in happy land .
“Kita harus membuat tol laut, menjadi poros maritim dunia”, demikian kepala negara menuliskan visinya di atas sebuah mobil bak terbuka dalam perjalanan Jakarta-Surabaya, di atas jalan bebas hambatan yang sepi. Beberapa truk pengangkut sayuran memilih keluar jalur, ke Pantura. “Tol terlalu beresiko pada dompet. Dalam biaya berlipat, bawang putih bisa bertambah pucat”. Oh, nusa yang mengantarai laut, masih bolehkah keyakinan itu menjadi rajah, sedangkan jejak ombak hanyalah tapak. Laut mengapung di dalam mimpi, tapi tenggelam dalam pikiran, juga ketakutan. Tanah tumpah darah, darah tumpah di tanah. Jika ada yang lebih mudah mengapa mencari yang susah. Namun, jika di darat kamu hanya cakap menjarah, ada baiknya pula kamu takut kepada ombak, agar laut tidak lekas surut, supaya samudera tidak segera didera.
Bagikan Berita Ini: